Kelebihan Kyai Pamungkas Dibanding Dukun Jakarta Timur Lainnya

image

Rudiantoro yang mempunyai identitas sebagai penduduk lokasi Kabupaten Klaten bagian Timur, dapat dikategorikan dalam peguyuban anak nun taat di agama, kedua orang tuanya, rukun dan sayang terhadap ke empat saudaranya. Ia guru pada salah satu sekolah swata. Di samping menjadi inang, ia juga memberikan pendidikan di masjid yang kadang memiliki tempat belajar kira warga kira-kira dekat teritori tinggalnya.

Dalam rangking sebagai guru, ia merupakan pemenang keteladanan sebagai seorang guru pada bidang agama. Murid pula teman inang semuanya merasakan segan apabila berbicara ataupun dalam seminar sekolah maupun tempat beda. Rujianto kadang sering diundang ke sebuah pertemuan wejangan.

Kedatangannya untuk menyampaikan tausiyah maupun siraman rohani pada tamu yang datang, lama kelamaan dia kendati tambah ramai, karena kecuali mengisi pengajian diapun memperoleh panggilan mubaligh atau regular di ujar Al mukharom.

Karena pondok dia agak rumpang dengan teritori tinggal orang-orang tuanya, diapun tidak mampu selalu memberikan pengawasan real maupun moral kepada ke-2 orang tuanya juga saudara saudaranya. Semua dikarenakan urusan yang dipikulnya untuk melepaskan penerangan dan pengertian kepada sesama umat.

Diapun ingat dan menyadari bahwa orang tuanya tergolong orang yang mampu. Terkenal beserta kekayaan diapun tidak merelakan kesempatan ini untuk bersombong.

Terpandang dari segi material belum tentu membawa ketenangan pada akhirat setelah, aku mendengarnya sendiri dibanding salah homo saudaraku yang saat ini bertandang ke rumahku. Walaupun kehidupanku bisa dibilang sederhana, tapi saudaraku kerap datang.

Kata mereka, rumahku, wisma bertuah, sebab kalau itu datang tersebut merasakan kenyamanan hati, persetujuan.

Berbeda bila pada rumah orang tuaku, graha bagus maksimum barang besar dan bertarif tinggi keluaran dari toko favorit yang berada dalam kotaku Pedan tercinta.

Suatu ketika aku dipanggil adik kandungku agar berlabuh ke tempatnya. Di situ aku diberi kabar, bahwa saudara suiungku meninggal dunia. Kamipun cepat pulang ke rumah orang tua, ketemu seluruh rombongan, langsung membuat sebuah koordinasi kilat, dalam rangka proses pemakaman sesuatu adikku. Tetangga pun tidak mau tertinggal untuk memberikan bantuan daya dan pikiran atas kepergian adikku. Kecelakaan telah sebagai jalan kepergiannya lewat mobil yang dikendarai masuk ke jurang pada daerah Sumbengjalan antara Jentir dan Semin, masih lokasi Gunung Kidul.

Biasanya adikku bahwa bepergian jarang menggunakan mobil bapakku, namun kenapa tatkala itu dia berganti mobil dengan mobil bapak. Di dalam mobil ada empat sahabat adikku, tetapi yang memproduksi heran, kenapa cuma adikku saja yang diambil dan meninggal.

Banyak tetangga yang membicarakan tentang pertambahan bapakku dengan hidup dan kehidupannya sebagai kaya melalui jalan nun tak lazim, yang berguna bapak mengatasi pesugihan biar bisa kaya dan dapat terpenuhi maksudnya.

Bahkan suatu ketika aku diajak bicara sambil seseorang dengan banyak mengarifi kronologis muncul bapakku.

”Mas, saya minta kamu kalau muncul di di keluarga kemas Haji Mustafa jangan mencapai berbatas lupa bertafakur juga berdzikir agar terlepasdari gangguan piaraannya, ”katanya.

“Lho! ada apa toh Mbah, mengapa bisa sangat? Apa betul kata orang2 bahwa bapakku mencari pesugihan yang konon katanya salah satu anaknya tentu akan dikorbankan untuk menjadi tumbal pesugihannya? ”tanyaku.

“Benar, raka. Bahkan tak hanya wahid tempat dan satu pesuglhan yang dia bawa, secara modal pengarahan dari seorang Kyai atau dukun di puncak gunung; bapakmu ngestoken dawuhnya dukun tersebut, ”kata si Mbah tetanggaku.

“Kalau rama ingin lekas kaya kudu menggunakan jalan ngingsu pesugihan (memelihara pesugihan) yang tak cuma satu, tapi mesti lebih dibanding satu, bahwa bisa diantaranya yang didawuhkan oleh sang guru supaya mencari pesugihan tersebut dengan sistem pat ju pat limo pancer, yang berarti bapak mesti mengambil pesugihan tersebut dibanding arah barat, timur, utara dan selatanguntuk melengkapi pancernya harus memungut pesugihan satu lagi.

Coba bayangkan saja, bapakmu yang semata-mata berjualan gemuk pertanian dan juga obatnya kok mobilnya lebih dari Iima risiko, belum lalu dua mobil truk” katanya lagi.

Salah wahid dari tersebut ada nun menyeloteh, di waktu aku berada di rumah orang-orang tua, menyesuaikan aku dengan hidup tak serumah dengan bapak. “Kalau aku dan anak istriku berada pada satu rumah mungkin saja akan adalah santapan piaraan bapakku. ”

“Alhamdulillah raka, kamu memperoleh pekerjaan nun jauh dari orang tua. Kami pula biar ikut mengikrarkan mas Rujianto tidak usah mengikuti petunjuk pengampu. Biarlah segalanya ditanggung sendiri sambil bapakmu. Jadi orang kehidupan jangan melihat terangkat tetapi melihatlah sepadanmu. ”

Manusia diberi hidup dan sukma oleh Yang mahakuasa untuk menegakkan dan memelihara hidupnya, tapi jangan datang melakukan perumpamaan Hangkoro Murko, serba kurang adanya walau sudah dikasih lebih olehNya, manusia telah mendapatkan kodrat tapi sedang dapat diwiradati.

Yang dinamakan wiradat disini ialah mencari jalan unik selain rezeki Tuhan biar bisa merubah kodrat itu, tiada taktik lain dengan cuma mengatasi pembantu setan yang digunakan untuk mempercepat peningkatan pada segala bidang juga urus’an.

Ya begitulah tuntunan sesepuh kampungku, akupun order segala yang dituturkan, karena kesemuanya itulah yang menyusun sebab musabab seseorang meleng akan penghargaan dari sang Penguasa tempat dan kreator alam seisinya.

Suatu hari akupun mendapat telpon dari adikku yang isiya merasa terdayuh pada aba dan ibu, katanya padaku, “Mas aku kasihan di dalam bapak Embuk, berulang kali aba memanggil supaya kamu berbalik. Bapak telah tua, apa semestinya mesti terus komitmen, apa engkau tidak trenyuh pada aba ibumu, ” Diperkuat di gaya berkata bapak kelihatannya sambil menangis.

Begitulah adikku meluluskan kabar dan akupun saja menyarankan bahwa sudah dalam rumah akur tolong jaga bapak dan ibu, kita tidak usah mengumpatjuga. Bukan usah menyampaikan masukan ke bapak, soalnya peribahasa sudah biasa mengatakan wong nandur ngunduh, wong utang nyaur, nasi sudah sebagai bubur apa mau dikata.

Akhirnya adikkupun meleset ke rumah, cocok secara apa dengan dituturkan sang sesepuh kampungku bahwa nanti bilamana bapak sudah menganugerahkan tumbal pesugihan yang mula-mula, sebagai persembahan yang selanjutnya adalah karet tetangga / teman menempel yang mau memonjam uang ataupun kurang lebih lainnya nun akan oleh sebab itu korban.

Berulang kali aku merekam berita, Si Parman yang menjadi pembantu bapak tenang, ada Iagi kabar tentang mas Warsito yang sebagai kasir di toko bapak juga tenang. Ada lalu seorang perempuan yang menyambut rumah dan juga yang senng disuruh mengantar persembahan para tetangga yang mengusahakan sawah pula biar meninggal.

Apa kesemuanya itu cuma merupakan korban tumbal pesugihan yang aba miliki? Masya Allah begitukah cara rama menjalankan hidup yang merubah kodrat menjadi suatu nun bisa menciptakan kekayaan dan kejayaan di dunia?

Kaget dan terkejut di saat saya mendapatkan warita dan adikku menjelaskan jika sekarang embuk sakit, dan sudah diboyong ke graha sakit Agama islam Klaten. Akupun segera pulang untuk tahu juga mengikrarkan ibu supaya segera segar, tapi segala sesuatu yang terjadi dari graha sakit Agama islam dipindah di rumah sakit Bethesda Yogya, karena penyakitnya agak selit-belit diprediksi oleh beberapa dokter.

Di atas teritori tidurnya embuk aku dekati, akupun mendoakan agar cepat sembuh, kok dia tidak mau bicara pada siapapun termasuk bapak saya dan adikku, nun bisa hamba rasakan dan aku ketahui cuma linangan air emas tempawan.

Kenapa ibu menangis, menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun lawan siapa yang mendekatinya termasuk tetangga dan teman embuk saat menengoknya. Hancur hatiku melihat keadaan orang nun telah melahirkan diriku di dunia im. Lantas apa-apa yang mesti aku perbuat?

Timbul pertanyaan dalam hatiku, apakah semua Tersebut termasuk ibuku juga adalah azab dibanding Tuhan atas ulah dan kelakuan bapak? Ibu yang dulu seorang pendiam dan suka memberikan sanjungan terhadap anaknya waktu ini terkulai luwes di atas tempat tilam. Hanya infus dan oksigen saja yang menghias dan memberikan keuletan hidup padanya.

Dari hari di hari, dibanding minggu di minggu, permulaan belum pula sembuh. Dari segala penjuru para tetangga yang masuk membantu mencarikan usaha entah lewat pengobatan alternatif saja paranormal, tapi hanya begitu saja hasilnya.

Karena penasaran, akupun mendatangi patriarki kampungku nun dulu sempat memberikan wejangan tentang bapakku. Langsung saja aku bertanya, “Kenapa ibuku kok tak segera segar dan sakitnya? ”

Diapun menjawab; “Hidup ini ialah perjuangan, membanting tulang untuk hidup dan menjaga keluarga. Jika ada khasiat harus digunakan untuk hidup orang beda, karena sebenarnya nyawa itu cuma gaduhan dan harta hanyalah adalah titipan Yang mahakuasa. Kapanpun Yang mahakuasa menghendaki untuk mengambil. Tak usah melalui proses dengan lama mengapa mas. Lha untuk ibumu tolong tiap malam selebihnya jam sebelas kamu bacakan Surat Yasin tiga kesempatan. Kamu tanpa merasa berat, karena Iebih berat saat ibumu mau melahirkan kamu dulu, kalau dibandingkan secara pengorbananmu. Walaupun bagaimanpun tersebut adalah permulaan yang ada mengadakan dirimu di kepada dunia tersebut atas pembebasan Tuhan. Kamu sanggup? ”

Sang pasak negeri kampung itupun mengeluarkan ultimatum ke diriku. Lantas akupun menyanggupi guna melaksanakan apa-apa yang diperintahkan orang tua tersebut.

Malam baru hingga malam ketiga saya jalani pembacaan surat Yasin. Dan malam ketiga itulah saat saya baru saja rampung membaca surah Yasin, beker 00. 30, ibu memanggilku. Aku termenung dan sinambung aku rangku! ibuku. Ibu menangis akupun paranormal Indonesia juga ikut menangis. Tatkala yang merisaukan bagiku, aku pun tldak beranl mengundang bapak dan adikku. Maksudku biar seluruh istirahat, dan aku sekadar yang merawat ibu. Pada dekapanku ibu blcara padaku, walau talun yang tampak terlalu lemah, namun beta bisa mendengarnya. Bagaikan seorang berbisik permulaan berkata, “Anakku Ruji, seharga kamulah nun bisa mengakomodasi ibu. ”

Hanya itulah kata ibuku yang terakhir. Waktu saya mau memawabnya, ibu sudah biasa pergi. Pergi menghadap Yang Maha Otoritas. Ibu tenang dunia.

Bapak dan adik kubangunkan dan bilang pada tersebut bahwa embuk telah tiada. Mendengar permulaan telah tiada, merekapun bertangisan pilu. Aku pun langsung menghubungi teman sekampung.

Berita itupun tersebar. Sampai pemakaman rampung dan selama masa tujuh tarikh aku berada di rumah orang tuaku. Karena ngerasa mempunyai tugas dan klaim, pada han ke delapan akupun mohon izin kepada bapak, adikku, teman pula tetangga untuk kembali kembali ke rumahku dl Pekalongan.

Hingga pada perian ke 100 wafatnya ibu, bapak tanggal sakit dikarenakan jatuh dari kamar membasuh. Langsung sekadar bapak untuk ke rumah sakit. Aba kena stroke, karena penyakrtnya perlu pengobatan, maka sekalian harta milik yang ada pada aba banyak nun terjual.

Ya begitulah hidup dan kehidupan keluargaku. Bapakku nun merubah kodrat akhirnyapun takluk dan order untuk menghabiskan hidupnya dalam atas lokasi tidur. Sahih kata orang2. manusia dapat dan larat merencanakan segala sesuatu saja nun mereka kehendaki, tapi Yang mahakuasa lah dengan Maha Menetapkanmengukuhkan, menjadikan.

Kalau seseorang mengerjakan merubah kodratnya, resikolah yang akan menetapkanmengukuhkan, menjadikan. Benar bapakku gila harta dan pemuja pesugihan. Penuh korban nun dia izinkan sebagal tumbal pesugihannya.

Aku dan adikku ngerasa kasihan padanya. Betapa berat azab dengan akan diterimanya nanti, olehkarena itu orang dengan meninggal kepada dasar bisnis minta sandaran gaib seperti pesugihan diaa tidak dapat langsung menghadap TuhanNya.

Nama: Kyai Pamungkas

Alamat: KYAI PAMUNGKAS, Jl. Raya Condet Jl. Kweni No.31, RT.1/RW.3, Balekambang, Kec. Kramat jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13530

Phone: +6285746468080